Cerita Rakyat Legenda Gunung Genthong.
by kumpulan cerita rakyat
Pada zaman dahulu, di tanah Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama
Majapahit. Salah seorang diantara raja-raja yang pernah memerintah
kerajaan Majapahit itu bernama Prabu Brawijaya V. Sang Prabu Brawijaya V
atau Brawijaya Pungkasan (terakhir), mempunyai seorang permaisuri dan
beberapa orang selir. Salah seorang diantara para selir sang Prabu ialah
Ratu Mayangsari. Suatu hari, pada saat Ratu Mayangsari mulai
menampakkan gejala-gejala mengandung, sang Prabu Brawijaya menitipkannya
kepada salah seorang saudaranya yang tinggal di desa dan hidup sebagai
petani. Nama saudara sang Prabu yang diserahi tugas untuk menjaga Ratu
Mayangsari itu ialah Ki Juru Sawah. Beberapa bulan kemudian, tibalah
saatnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putera yang diberinya nama
Raden Patah.
Suatu ketika, saat Raden Patah sudah mulai beranjak remaja, ia
melihat Ki Juru Sawah akan pergi ke kerajaan untuk posok glondong
pangareng-areng atau mempersembahkan upeti berupa sebagian dari hasil
sawahnya kepada Raja. Saat Ki Juru Sawah berangkat ke kerajaan, Raden
Patah mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.
Sesampai di istana, Ki Juru Sawah langsung menghadap raja untuk
menghaturkan upeti. Sementara Raden Patah yang mengikutinya dari
belakang, mulai berkeliling untuk melihat istana raja. Ia yang sekali
pun belum pernah ke istana, merasa kagum melihat barang-barang serba
indah yang ada di sana. Dan, tanpa menghiraukan tata-krama yang berlaku
di istana, Raden Patah langsung masuk ke sebuah gedung tempat menyimpan
pusaka keraton. Setelah masuk ke dalam gedung, dengan tanpa ragu-ragu,
Raden Patah memukul sebuah gong pusaka hingga menimbulkan suara yang
menggelegar.
Mendengar suara gong pusaka yang menggelegar itu, Sang Prabu
Brawijaya terkejut. Ia lalu memerintahkan Mahapatihnya, untuk melihat
siapa orang yang telah berani memukul pusaka itu tanpa seizinnya.
Setelah mendapat perintah tersebut, sang Mahapatih lalu bergegas
menuju gedung pusaka. Di sana ia melihat seorang anak muda yang di
tangannya masih menggenggam alat pemukul gong. Setelah melihat siapa
pelakunya, sang Mahapatih segera kembali ke istana untuk melaporkannya
pada raja.
Ketika mendapat laporan dari Mahapatihnya itu, sang Prabu agak
terkejut, sebab selain dirinya sendiri, di seluruh kerajaan hanya ada
beberapa orang saja yang mempunyai kekuatan luar biasa yang mampu
memukul gong pusaka itu hingga berbunyi. Sang Prabu kemudian berkata,
“Anak siapa dia? Lekas panggil kemari!”
Sang Mahapatih kemudian kembali lagi ke gedung pusaka untuk membawa
Raden Patah menghadap raja. Setelah Raden Patah dibawa menghadap baginda
raja, Ki Juru Sawah yang juga masih di tempat itu menjadi terkejut
sekali. Ia tidak menyangka kalau Raden Patah telah mengikutinya ke kota.
Dan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Ki Juru Sawah
segera berkata, “Ampun Baginda Prabu, hamba sama sekali tidak menyangka
kalau dia ikut ke kota. Sudah berkali-kali hamba melarang dia ikut,
tetapi rupanya secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti perjalanan hamba.”
“Kau kenal anak muda ini, Ki Juru?” tanya Sang Prabu.
“Ya. Hamba mengenalnya,” jawab Ki Juru Sawah.
“Siapakah dia?” tanya baginda.
“Ia adalah anak asuhan hamba,” jawab Ki Juru Sawah.
“Lalu, anak siapa dia?” tanya baginda lagi.
“Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Ratu Mayangsari.”
“Wah, kalau begitu dia adalah anakku,” kata baginda.
“Benar, Baginda Prabu,” sembah Ki Juru Sawah.
“Kalau begitu, biarlah dia tinggal di keraton ini,” kata baginda
dengan nada gembira, sebab anak dari salah seorang selirnya itu telah
tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Singkat cerita, sejak saat itu Raden Patah tidak lagi tinggal di
rumah Ki Juru Sawah, melainkan tinggal di Keraton Majapahit. Selama
tinggal di keraton, Raden Patah dengan tekun mempelajari berbagai macam
ilmu, sehingga pada saat usianya menginjak dewasa ia telah menjadi
seorang yang tidak hanya pandai dalam ilmu olah kanuragan, tetapi juga
ilmu-ilmu tentang kenegaraan. Oleh karena itu, Prabu Brawijaya lalu
mengutusnya untuk mengepalai wilayah jajahan Majapahit di Palembang.
Setelah beberapa tahun menjadi kepala wilayah jajahan di Palembang,
pada suatu malam Raden Patah bermimpin didatangi dan di-Islamkan oleh
Kanjeng Sunan Kalijaga. Di dalam mimpinya itu Kanjeng Sunan Kalijaga
juga berkata, “Jebeng1, sekarang sudah tiba saatnya kau kembali ke tanah
Jawa. Tengoklah ayahmu yang kini telah lanjut usianya. Bawalah prajurit
berjumlah seratus empat puluh orang. Tetapi ingat, kau jangan langsung
menuju Majapahit, tetapi tinggallah di daerah Glagahwangi2 dan
dirikanlah sebuah masjid di tempat itu.”
Setelah mendapat wisik3 dari Kanjeng Sunan Kalijaga, beberapa hari
kemudian berangkatlah Raden Patah ke tanah Jawa, dengan membawa prajurit
berjumlah seratus empat puluh orang. Setelah menempuh perjalanan yang
panjang, sampailah rombongan itu di daerah Glagahwangi yang masih berupa
hutan. Di hutan itu, Raden Patah beserta rombongannya mulai membangun
sebuah masjid.
Oleh karena daerah Glagahwangi masih termasuk wilayah Kerajaan
Majapahit, maka Raden Patah merasa perlu menjumpai ayahnya, untuk
meminta izin membuka hutan dan mendirikan masjid. Dengan dasar itulah,
maka Raden Patah beserta para pengiringnya berangkat ke Majapahit untuk
menghadap Prabu Brawijaya.
Namun, karena mendapat laporan dari para telik sandi-nya yang
menginformasikan bahwa Raden Patah sedang menuju ke kerajaan dengan
membawa ratusan pengawal, entah mengapa Sang Prabu Brawijaya mengira
bahwa anaknya itu akan menyerang Kerajaan Majapahit. Dan, entah mengapa
pula sang Prabu lalu mengajak permaisuri beserta pengawalnya untuk
melarikan diri dari Majapahit. Dalam pelarian ini sang Prabu juga
membawa anjing kesayangannya.
Pelarian sang Prabu Brawijaya, permaisuri beserta para pengiringnya
itu dari Kerajaan Majapahit menuju ke arah barat hingga sampai di
wilayah Gunung Kidul. Sesampainya di tempat itu, sang Prabu menyuruh
para pengiringnya membuka hutan dan mendirikan sebuah pedukuhan.
Pedukuhan ini sekarang telah menjadi sebuah desa yang bernama Desa
Gagang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Saat Raden Patah beserta pengiringnya telah tiba di Majapahit, ia
menjadi kecewa karena kerajaan telah kosong. Rupanya antara ayah dan
anak tersebut telah terjadi suatu kesalah-paham. Raden Patah datang ke
kerajaan dengan maksud ingin meminta izin untuk mendirikan masjid di
Glagahwangi, sedangkan Prabu Brawijaya mengira kedatangan puteranya itu
bertujuan hendak menyerang Majapahit. Oleh karena itu, Raden Patah
beserta pengiringnya berusaha menyusul ayahandanya ke Gunung Kidul.
Setelah beberapa saat lamanya bermukim di Gunung Kudul, Prabu
Brawijaya mendengar berita lagi bahwa rombongan Raden Patah sedang
menyusulnya. Prabu Brawijaya yang semakin yakin bahwa puteranya itu
ingin menyerangnya, kemudian pindah lagi ke sebuah bukit yang masih
berada di kawasan Gunung Kidul. Di tempat yang baru itu ia mendirikan
sebuah padepokan yang saat ini telah menjadi sebuah desa yang bernama
Manggung4. Tujuan dari pendirian pedukuhan di atas bukit adalah agar
apabila Raden Patah beserta para pengiringnya datang, dapat segera
mengetahuinya.
Namun, setelah tinggal di bukit itu, sang Prabu beserta para
pengawalnya menghadapi kesulitan. Di puncak bukit tidak ada sumber air,
sehingga setiap ia dan permaisurinya memerlukan air, terpaksa
pengawalnya harus pergi ke sumber air yang terletak di kaki bukit.
Sementara itu, Raden Patah yang berusaha menyusul telah sampai di
Gunung Nglompong. Di daerah Gunung Nglompong ini ia mendapat keterangan
dari penduduk bahwa Prabu Brawijaya bersembunyi di puncak bukit
Manggung. Raden Patah juga mengetahui, bahwa di tempat persembunyiannya
Prabu Brawijaya sering mengalami kesulitan karena tidak ada air. Oleh
sebab itu, dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki, Raden Patah lalu
melemparkan sebuah genthong atau padasan yang penuh berisi air ke puncak
Bukit Manggung.
Sewaktu sang Prabu secara tiba-tiba mendapati sebuah padasan yang
telah berisi air di depan pondoknya, ia yakin bahwa itu adalah “ulah”
anaknya. Ia menyangka Raden Patah sedang mengejeknya dengan memberikan
genthong yang penuh berisi air yang memang sangat dibutuhkannya. Oleh
karena itu, sang Prabu beserta permaisuri dan para pengawalnya
meninggalkan bukit Manggung untuk mencari tempat persembunyian yang
lain. Dan sejak saat itu, bukit tempat Prabu Brawijaya yang dilempari
sebuah genthong oleh Raden Patah dinamakan sebagai Gunung Genthong. Dan,
sampai saat ini genthong “pemberian” Raden Patah itu masih ada namun
dindingnya sudah retak-retak, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk
menampung air.
Begitulah, terus-menerus Sang Prabu Brawijaya senantiasa melarikan
diri dan bersembunyi. Sedangkan Raden Patah pun juga terus saja mencari
dan berusaha ingin menjumpai. Sampai suatu saat sang Prabu dapat
tersusul oleh Raden Patah.
Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari Raden Patah, maka
seluruh kesalah-pahaman diantara mereka pun dapat diselesaikan. Dan,
kepada puteranya itu sang Prabu berkata, “Baiklah, Patah. Ayahanda ingin
berbicara. Kalau ayahanda harus menuruti kehendakmu untuk menganut
agamamu, ayahanda tidak bersedia. Kalau kau memang memilih agamamu itu,
tekunilah dengan sungguh-sungguh. Soal niatmu akan membangun masjid,
laksanakan sebaik-baiknya. Bahkan ayahanda mengizinkan engkau membangun
keratonmu di Glagahwangi. Setelah jadi, namakanlah Demak Bintara, agar
negerimu kelak ramai dan berwibawa. Pindahkanlah seluruh isi Keraton
Majapahit ke Demak Bintara.”
Setelah mendapat nasihat dari ayahandanya, Raden Patah lalu
melanjutkan rencananya membangun masjid di Glagahwangi. Bahkan, sesuai
dengan nasihat yang diterimanya, ia pun mulai mendirikan keraton. Saat
keraton selesai di buat, barang-barang dari Keraton Majapahit lalu
dipindahkan ke keratonnya yang dinamakan Demak Bintara
Jumat, 07 Maret 2014
cerita rakyat
Putri Kandita
Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita.
Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.
Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.
“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.
“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.
Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.
“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.
“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.
“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.
Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.
Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.
Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.
Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.
“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.
“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.
“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.
Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.
“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.
Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.
“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.
Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.
“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.
Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.
“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.
Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni
Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.
Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu. Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya. Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.
Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri. Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.
===========
Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral
yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang
teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa.
Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi
dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui
wangsit yang diterimanya.
(Samsuni/sas/205/10-10)
source : Putri Kandita
by cerita rakyat nusantara
Selasa, 04 Maret 2014
Puisi Reformasi di Era reformasi
by kecil itu indah
EMPAT TANGKAI BUNGA GUGUR DI TRISAKTI
Sore itu, Jakarta kelabu
Hujan turun meregang bagai busur
Menusuk jantung bumi
Empat tangkai bunga gugur di Trisakti
Terpanggang tirani.
Memang kematian adalah takdir
Tetapi kelaliman tak dapat diampuni
Menumpahkan darah sesama
Hanya akan melahirkan kepedihan dan kegeraman
Selamat jalan bungaku
Engkau adalah wangi dari bunga reformasi
Wangimu merebak keseluruh pelosok negeri
Membangkitkan semangat bumi
Tetesan darahmu tercatat dalam sejarah peradaban bangsa
Do'a kami, mengiringimu ketempat peraduanmu.
Bogor, Mei 1998.
Seandainya kaki ini tak beku di sandal jepit
Tentu aku dapat menari dan menyanyi bersamamu
Tentang kuncup bunga yang mekar di kampus-kampus
Percayalah kawan, akupun bernyanyi seperti di panggungmu
Tentang hijaunya daun, putihnya salju, birunya laut dan hitamnya aspal.
Lagumu senandung rindu yang lama hilang ditunggu kalbu
Yakinlah kumbang mengisap sari dari kantung lusuh bajumu
Ia akan terbang mencari sarang penyamun yang dipenuhi madu
Dan berbisik; Turunlah....... karena kumbang telah mengandung
Buah ranum tak berulat.
Biarlah aku bernyanyi di sini saja
Seperti nyanyian pajar menjemput pagi
Dari setiap uban yang jatuh lahir puisi
Meramaikan kenduri para sufi
Yang malu-malu berdiri.
Bandung, Mei 1998'.
KADO BULAN MEI
Oleh; Rim Putra Sunda
Selamat damai kataku kepada puluhan ribu
mahasiswa, pembuka kado duapuluh satu Mei
yang terekam dibalik layar kaca.
Kado apa yang mesti kubuat untukmu
selain buah demonstrasi? Sepasang merpati
atau untaian melati. Engkaulah buah hati
Selamat damai kataku, kepada bayangan
yang menggiring sepi ke sisi mentari pagi
membuka buku baru, lembaran baru, corfetan
baru. Bongkahan batu hitam yang menyimpan misteri
tentang orang-orang yang mengotori negeri ini
tentang perang sesuka hati.
Selamat damai kataku kepada diri sendiri
dari hari mencari hari yang terus ke sisi
senja lagi-senja lagi, lapar menggugat
kapan kita berhenti berdebat ?
Topeng-topeng lahir warna-warni
berebut hati mencri penghuni
berpencar mencari pemancar, dan
penghuni semakin gentar.
Selamat damai kataku, entah untuk siapa
hanya udara yang dihirup terasa semakin pengap
menunggu kabar hari esok.
Bandung, Juni 1998.
LEWAT LAYAR KACA NOVEMBER BERDARAH.
Oleh : Rim Putra Sunda.
Lewat layar kaca terekam peperangan
bambu runcing, batu, gas air mata, dan senapan
menyalak tak lagi bisa dielakan
bau amis darah terulang lagi.
Jalanan Jakarta terpanggang api amarah
dan langitpun berjelaga.
Aku menangis bukan gas air mata
tapi karena negeri ini penuh luka dan dukacita
hanya karena berbeda menjadi mati rasa.
Baru saja kita lega
belum kering darah 13 Mei diingatan
basah lagi 13 November di senapan kelaliman.
Kapan kita punya cerita tentang negeri khatulistiwa
hunian para raja yang adil palamarta
yang mampu menyantuni darah muda
bukan raja pencari pusaka
yang dijaga kawat berduri dan ponggawa
yang takut kehilangqan tahta.
Apa yang mesti kita perbuat
selain perang dan perang lagi
atau akan tetap mengembara di rimba belantara.
Kesadaran yang diperdebatkan tetap jadi impian
harta dan tahta jadi rebutan.
Rasa-rasanya ingin menghapus angka 13 dari penanggalan
menjadi angka keramat dalam ramalan
barangkali warna darah tidak lagi menyakitkan
tetapi merah meyakinkan.
Dan perbedaan menjadi pelajaran bagi perubahan
bukan lawan yang harus dimusnahkan.
Sumedang, November 1998.
MENANGISLAH
Oleh: Moch Djoko Yuwono
Menangis, menangislah Bunda Pertiwi
darah bersimbah
jiwapun meradang
senandung lagu sendu
: bertapa hatiku tak kan pilu, telah gugur pahlawanku......
Menangis, menangislah wahai Bunda Pertiwi
ketika di antara sebagian putra-putrimu masih ada
yang mencari kenikmataan sesaat
memenuhi ketidak puasan-ketidakpuasan
tanpa melihat arah
menuju kehancuran atau sebaliknya
sedangkan sebagian anak negeri yang lain tak henti
cemas berteriak tentang perubahan.
Menangis-menangislah, wahai Bunda Pertiwi
maka derasnya air matamu akan menyemai kelopak bunga
yang terkulai dan gugur oleh pelatuk senapan senja hari
maka derasnya air matamu akan menyuburkan
bunga-bunga mawar
berseri indah di taman yang damai.
Damai, damailah wahai anak negeri
mari menjalin jemari
sebelum senja menenggelamkan surya
sebelum kelopak bunga jatuh sia-sia
demi berjuta harap
demi berjuta damai
menuju hari esok
untukmu
untukku
untuk kita.
Majalah AKSI Jakarta, Mei 1998.
TANAH AIR MATA
Oleh: Sutarji
Tanah air mata tanah tumpah dukaku
mata air air mata kami
air mata tanah air kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana.
Bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian tak bisa menyingkir
kemanapun melangkah
kalian pijak air mata kami
kemanapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
Kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata kami.
Kompas 16 Agustus 1996
SAYA MENDENGAR INDONESIA MENYANYI
Oleh : Abdurahman Wahid [Gusdur] Kompas.
Saya bisa saja dianggap kurang dapat
melihat dengan baik,
Akan tetapi saya dapat mendengar,
mendengar dengan baik
Indonesia kita tercinta menyanyi.........
Saya mendengar Indoesia menyanyi,
Di tengah badai krisis Indonesia yang makin merajalela
Di kala perpecahan, kesaatuan dan persatuan menerpa kita,
Dari Sabang sampai Merauke,
Tua muda, pelajar-mahasiswa, usahawan dan pekerja,
Satu padu dalam lagu "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa"
Saya mendengar Indonesia menyanyi,
Budayawan dan seniman, penari dan musisi,
Politisi, karyawan swasta dan pegawai negeri,
Satu padu dalam lagu " Padamu Negeri".
Saya mendengar Indonesia menyanyi
Para pemuka bangsa, pakar, politisi dan praktisi,
Prajurit, perwira dan patriot pejuang sejati,
Tegar bersama dalam lagu " Maju Tak Gentar"
Dengar, hai dengar Indonesia menyanyi,
Bersatu padu dalam lagu harapan, pengabdian,
dan perjuangan.
Perjuangan untu membela yang benar,
yang dihembus dan disebar oleh angin perubahan,
dan reformasi.
SAYA MEMPUNYAI IMPIAN
[Dari lapangan Tianmen China] Kompas
Saya mempunyai impian
untuk impian ini, saya bersedia
menumpahkan darahku
untuk impian ini
Biar aku menahan lapar dan dahaga
Biar hatiku penuh dengan kegeraman
dan keputusasaan
Biar senapan kelaliman dengan napsu membunuh
Diarahkan ke dadaku
Karena di belakangku, tidak akan pernah akan membiarkan
Generasi anak-anak dan cucu-cucu Cina
Sebuah impian tentang demokrasi dan kebebasan.
[peristiwa demonsrasi mahasiswa yang salah satunya
meninggalnya seorang mahasiswa di gilas Tank Baja]
.KEPADA WAKIL RAKYAT
Oleh: Rim Putra Sunda
Yang terhormat wakil rakyat
Tuan adalah orang terhormat yang mewakili empat ratus ribu,
yang memilih tuan.
Suara tuan sangat kuat karena suara empat ratus ribu, yang
sanggup menggoyang bumi nusantara.
Mulut tuan mulut empat ratus ribu, yang disiapkan untuk membela
mulut-mulut lapar dan dahaga.
Kenginan kami sama dengan janji-janji tuan yang komitmen
terhadap perjuangan hak-hak hidup.
Setelah tuan terpilih mewakili kami, tuan jadi orang kaya mendadak
Kami curiga..........
Tuan korupsi, kolusi, dan nepotisme, empat ratus ribu yang memilih tuan
merasa malu dan kecewa.
Tuan jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding, sementara
persoalan di dalam negeri menggunung., dan
Kami bingung tujuh keliling...
Indoesia baru, yang tuan pasarkan belum laku.
Kami penasaran
Tuan berebut jabatan mencari posisi jadi menteri
Kami tidak mengerti....
Mewakli siapakah sebenarnya tuan-tuan......?
Bandung, Sept. 2000
SURAT DARI TSUNAMI
Oleh: Rim Putra Sunda
ACEH, NIAS 26 DESEMBER 20004
Kepada INDONESIA
Aku adalah TSUNAMI
Namaku berasal dari negeri Sakura
Gelombang samudra Hindia
yang meratakan perkampungan, kota dan desa,
tak terkecuali para suhada, tetapi aku masih
menyisakan kesempatan hidup dan impian.
Kepada INDONESIA
Aku bukan durjana pencipta bencana
bukan pula teroris yang diburu dunia
atau Dazal yang melahirkan huru-hara
aku adalah alam yang dapat kalian baca
seperti kalian melihat terbit dan tenggelamnya Matahari
atau gerhana yang menenggelamkan Bumi
cuma kalian lalai terhadapku
walaupun ada di antara kalian pemerhati
tetapi membeku saat aku tiba.
Kepada INDONESIA
Aku juga berduka sangat dalam
sedalam samudra dari mereka yang tersisa
atas tingkahku yang tidak berkenan
meluluhlantakan sebagian dari kehidupan kalian
tak terkecuali anak-anak yang main petak-umpet di jalanan
Aku sayang pada mereka
Aku cinta mereka
mereka sekarang tak lagi merasa sakit
tak lagi lapar dan dahaga
atau rasa takut berkepanjangan
biarlah mereka tidur panjang
meninggalkan segala dunia
terbebas dari segala prahara.
Kepada INDONESIA
Aku masih punya kebanggaan pada kalian
pada hati yang masih hidup
pada dunia yang tidak mengenal batas
santunan dan bantuan tak terkira
mereka betul-betul tulus dan ikhlas membantu sesama
mengangkat jasad-jasad tak bernama
di tumpukan puing reruntuhan dan di kubangan lumpur hitam
Tetapi akupun prihatin pada kalian
ternyata kalian betul-betul miskin
miskin harta dan peralatan
miskin langkah dan penanganan
kalianpun canggung dalam pergaulan dunia
karena sudah dicap raja maling jalanan
yang hampir-hampir tak mampu menyalurkan bantuan.
Kepada INDONESIA
Akupun berharap pada kalian
menata langkah ke depan
tak lagi mencari-cari kambing hitam
berdebat berkepanjangan
cukuplah sudah seratus ribu jiwa tertanam dalam dada kalian
seratus ribu jasad tak bernama memohon pada kalian
agar poto copy bencana kemanusiaan
tak lagi terulang.
Saat suratku sampai di tangan kalian
Aku telah pergi jauh ke lempeng samudra
di bawah bayang-bayang perahu nelayan dan kapal pesiar
saat aku datang lagi, kalian telah siap menyambutku.
Tsunami...........
Sumedang, Januari 2005.
EMPAT TANGKAI BUNGA GUGUR DI TRISAKTI
Oleh: Rim Putra Sunda
Sore itu, Jakarta kelabu
Hujan turun meregang bagai busur
Menusuk jantung bumi
Empat tangkai bunga gugur di Trisakti
Terpanggang tirani.
Memang kematian adalah takdir
Tetapi kelaliman tak dapat diampuni
Menumpahkan darah sesama
Hanya akan melahirkan kepedihan dan kegeraman
Selamat jalan bungaku
Engkau adalah wangi dari bunga reformasi
Wangimu merebak keseluruh pelosok negeri
Membangkitkan semangat bumi
Tetesan darahmu tercatat dalam sejarah peradaban bangsa
Do'a kami, mengiringimu ketempat peraduanmu.
Bogor, Mei 1998.
LEWAT PUISI AKU BERNYANYI
Oleh: Rim Putra Sunda
Seandainya kaki ini tak beku di sandal jepit
Tentu aku dapat menari dan menyanyi bersamamu
Tentang kuncup bunga yang mekar di kampus-kampus
Percayalah kawan, akupun bernyanyi seperti di panggungmu
Tentang hijaunya daun, putihnya salju, birunya laut dan hitamnya aspal.
Lagumu senandung rindu yang lama hilang ditunggu kalbu
Yakinlah kumbang mengisap sari dari kantung lusuh bajumu
Ia akan terbang mencari sarang penyamun yang dipenuhi madu
Dan berbisik; Turunlah....... karena kumbang telah mengandung
Buah ranum tak berulat.
Biarlah aku bernyanyi di sini saja
Seperti nyanyian pajar menjemput pagi
Dari setiap uban yang jatuh lahir puisi
Meramaikan kenduri para sufi
Yang malu-malu berdiri.
Bandung, Mei 1998'.
KADO BULAN MEI
Oleh; Rim Putra Sunda
Selamat damai kataku kepada puluhan ribu
mahasiswa, pembuka kado duapuluh satu Mei
yang terekam dibalik layar kaca.
Kado apa yang mesti kubuat untukmu
selain buah demonstrasi? Sepasang merpati
atau untaian melati. Engkaulah buah hati
Selamat damai kataku, kepada bayangan
yang menggiring sepi ke sisi mentari pagi
membuka buku baru, lembaran baru, corfetan
baru. Bongkahan batu hitam yang menyimpan misteri
tentang orang-orang yang mengotori negeri ini
tentang perang sesuka hati.
Selamat damai kataku kepada diri sendiri
dari hari mencari hari yang terus ke sisi
senja lagi-senja lagi, lapar menggugat
kapan kita berhenti berdebat ?
Topeng-topeng lahir warna-warni
berebut hati mencri penghuni
berpencar mencari pemancar, dan
penghuni semakin gentar.
Selamat damai kataku, entah untuk siapa
hanya udara yang dihirup terasa semakin pengap
menunggu kabar hari esok.
Bandung, Juni 1998.
LEWAT LAYAR KACA NOVEMBER BERDARAH.
Oleh : Rim Putra Sunda.
Lewat layar kaca terekam peperangan
bambu runcing, batu, gas air mata, dan senapan
menyalak tak lagi bisa dielakan
bau amis darah terulang lagi.
Jalanan Jakarta terpanggang api amarah
dan langitpun berjelaga.
Aku menangis bukan gas air mata
tapi karena negeri ini penuh luka dan dukacita
hanya karena berbeda menjadi mati rasa.
Baru saja kita lega
belum kering darah 13 Mei diingatan
basah lagi 13 November di senapan kelaliman.
Kapan kita punya cerita tentang negeri khatulistiwa
hunian para raja yang adil palamarta
yang mampu menyantuni darah muda
bukan raja pencari pusaka
yang dijaga kawat berduri dan ponggawa
yang takut kehilangqan tahta.
Apa yang mesti kita perbuat
selain perang dan perang lagi
atau akan tetap mengembara di rimba belantara.
Kesadaran yang diperdebatkan tetap jadi impian
harta dan tahta jadi rebutan.
Rasa-rasanya ingin menghapus angka 13 dari penanggalan
menjadi angka keramat dalam ramalan
barangkali warna darah tidak lagi menyakitkan
tetapi merah meyakinkan.
Dan perbedaan menjadi pelajaran bagi perubahan
bukan lawan yang harus dimusnahkan.
Sumedang, November 1998.
MENANGISLAH
Oleh: Moch Djoko Yuwono
Menangis, menangislah Bunda Pertiwi
darah bersimbah
jiwapun meradang
senandung lagu sendu
: bertapa hatiku tak kan pilu, telah gugur pahlawanku......
Menangis, menangislah wahai Bunda Pertiwi
ketika di antara sebagian putra-putrimu masih ada
yang mencari kenikmataan sesaat
memenuhi ketidak puasan-ketidakpuasan
tanpa melihat arah
menuju kehancuran atau sebaliknya
sedangkan sebagian anak negeri yang lain tak henti
cemas berteriak tentang perubahan.
Menangis-menangislah, wahai Bunda Pertiwi
maka derasnya air matamu akan menyemai kelopak bunga
yang terkulai dan gugur oleh pelatuk senapan senja hari
maka derasnya air matamu akan menyuburkan
bunga-bunga mawar
berseri indah di taman yang damai.
Damai, damailah wahai anak negeri
mari menjalin jemari
sebelum senja menenggelamkan surya
sebelum kelopak bunga jatuh sia-sia
demi berjuta harap
demi berjuta damai
menuju hari esok
untukmu
untukku
untuk kita.
Majalah AKSI Jakarta, Mei 1998.
TANAH AIR MATA
Oleh: Sutarji
Tanah air mata tanah tumpah dukaku
mata air air mata kami
air mata tanah air kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana.
Bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian tak bisa menyingkir
kemanapun melangkah
kalian pijak air mata kami
kemanapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
Kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata kami.
Kompas 16 Agustus 1996
SAYA MENDENGAR INDONESIA MENYANYI
Oleh : Abdurahman Wahid [Gusdur] Kompas.
Saya bisa saja dianggap kurang dapat
melihat dengan baik,
Akan tetapi saya dapat mendengar,
mendengar dengan baik
Indonesia kita tercinta menyanyi.........
Saya mendengar Indoesia menyanyi,
Di tengah badai krisis Indonesia yang makin merajalela
Di kala perpecahan, kesaatuan dan persatuan menerpa kita,
Dari Sabang sampai Merauke,
Tua muda, pelajar-mahasiswa, usahawan dan pekerja,
Satu padu dalam lagu "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa"
Saya mendengar Indonesia menyanyi,
Budayawan dan seniman, penari dan musisi,
Politisi, karyawan swasta dan pegawai negeri,
Satu padu dalam lagu " Padamu Negeri".
Saya mendengar Indonesia menyanyi
Para pemuka bangsa, pakar, politisi dan praktisi,
Prajurit, perwira dan patriot pejuang sejati,
Tegar bersama dalam lagu " Maju Tak Gentar"
Dengar, hai dengar Indonesia menyanyi,
Bersatu padu dalam lagu harapan, pengabdian,
dan perjuangan.
Perjuangan untu membela yang benar,
yang dihembus dan disebar oleh angin perubahan,
dan reformasi.
SAYA MEMPUNYAI IMPIAN
[Dari lapangan Tianmen China] Kompas
Saya mempunyai impian
untuk impian ini, saya bersedia
menumpahkan darahku
untuk impian ini
Biar aku menahan lapar dan dahaga
Biar hatiku penuh dengan kegeraman
dan keputusasaan
Biar senapan kelaliman dengan napsu membunuh
Diarahkan ke dadaku
Karena di belakangku, tidak akan pernah akan membiarkan
Generasi anak-anak dan cucu-cucu Cina
Sebuah impian tentang demokrasi dan kebebasan.
[peristiwa demonsrasi mahasiswa yang salah satunya
meninggalnya seorang mahasiswa di gilas Tank Baja]
.KEPADA WAKIL RAKYAT
Oleh: Rim Putra Sunda
Yang terhormat wakil rakyat
Tuan adalah orang terhormat yang mewakili empat ratus ribu,
yang memilih tuan.
Suara tuan sangat kuat karena suara empat ratus ribu, yang
sanggup menggoyang bumi nusantara.
Mulut tuan mulut empat ratus ribu, yang disiapkan untuk membela
mulut-mulut lapar dan dahaga.
Kenginan kami sama dengan janji-janji tuan yang komitmen
terhadap perjuangan hak-hak hidup.
Setelah tuan terpilih mewakili kami, tuan jadi orang kaya mendadak
Kami curiga..........
Tuan korupsi, kolusi, dan nepotisme, empat ratus ribu yang memilih tuan
merasa malu dan kecewa.
Tuan jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding, sementara
persoalan di dalam negeri menggunung., dan
Kami bingung tujuh keliling...
Indoesia baru, yang tuan pasarkan belum laku.
Kami penasaran
Tuan berebut jabatan mencari posisi jadi menteri
Kami tidak mengerti....
Mewakli siapakah sebenarnya tuan-tuan......?
Bandung, Sept. 2000
SURAT DARI TSUNAMI
Oleh: Rim Putra Sunda
ACEH, NIAS 26 DESEMBER 20004
Kepada INDONESIA
Aku adalah TSUNAMI
Namaku berasal dari negeri Sakura
Gelombang samudra Hindia
yang meratakan perkampungan, kota dan desa,
tak terkecuali para suhada, tetapi aku masih
Kepada INDONESIA
Aku bukan durjana pencipta bencana
bukan pula teroris yang diburu dunia
atau Dazal yang melahirkan huru-hara
aku adalah alam yang dapat kalian baca
seperti kalian melihat terbit dan tenggelamnya Matahari
atau gerhana yang menenggelamkan Bumi
cuma kalian lalai terhadapku
walaupun ada di antara kalian pemerhati
tetapi membeku saat aku tiba.
Kepada INDONESIA
Aku juga berduka sangat dalam
sedalam samudra dari mereka yang tersisa
atas tingkahku yang tidak berkenan
meluluhlantakan sebagian dari kehidupan kalian
tak terkecuali anak-anak yang main petak-umpet di jalanan
Aku sayang pada mereka
Aku cinta mereka
mereka sekarang tak lagi merasa sakit
tak lagi lapar dan dahaga
atau rasa takut berkepanjangan
biarlah mereka tidur panjang
meninggalkan segala dunia
terbebas dari segala prahara.
Kepada INDONESIA
Aku masih punya kebanggaan pada kalian
pada hati yang masih hidup
pada dunia yang tidak mengenal batas
santunan dan bantuan tak terkira
mereka betul-betul tulus dan ikhlas membantu sesama
mengangkat jasad-jasad tak bernama
di tumpukan puing reruntuhan dan di kubangan lumpur hitam
Tetapi akupun prihatin pada kalian
ternyata kalian betul-betul miskin
miskin harta dan peralatan
miskin langkah dan penanganan
kalianpun canggung dalam pergaulan dunia
karena sudah dicap raja maling jalanan
yang hampir-hampir tak mampu menyalurkan bantuan.
Kepada INDONESIA
Akupun berharap pada kalian
menata langkah ke depan
tak lagi mencari-cari kambing hitam
berdebat berkepanjangan
cukuplah sudah seratus ribu jiwa tertanam dalam dada kalian
seratus ribu jasad tak bernama memohon pada kalian
agar poto copy bencana kemanusiaan
tak lagi terulang.
Saat suratku sampai di tangan kalian
Aku telah pergi jauh ke lempeng samudra
di bawah bayang-bayang perahu nelayan dan kapal pesiar
saat aku datang lagi, kalian telah siap menyambutku.
Tsunami...........
Sumedang, Januari 2005.
Langganan:
Postingan (Atom)





