Jumat, 07 Maret 2014

cerita rakyat

Cerita Rakyat Legenda Gunung Genthong.
by kumpulan cerita rakyat

 Pada zaman dahulu, di tanah Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama Majapahit. Salah seorang diantara raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Majapahit itu bernama Prabu Brawijaya V. Sang Prabu Brawijaya V atau Brawijaya Pungkasan (terakhir), mempunyai seorang permaisuri dan beberapa orang selir. Salah seorang diantara para selir sang Prabu ialah Ratu Mayangsari. Suatu hari, pada saat Ratu Mayangsari mulai menampakkan gejala-gejala mengandung, sang Prabu Brawijaya menitipkannya kepada salah seorang saudaranya yang tinggal di desa dan hidup sebagai petani. Nama saudara sang Prabu yang diserahi tugas untuk menjaga Ratu Mayangsari itu ialah Ki Juru Sawah. Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putera yang diberinya nama Raden Patah.
Suatu ketika, saat Raden Patah sudah mulai beranjak remaja, ia melihat Ki Juru Sawah akan pergi ke kerajaan untuk posok glondong pangareng-areng atau mempersembahkan upeti berupa sebagian dari hasil sawahnya kepada Raja. Saat Ki Juru Sawah berangkat ke kerajaan, Raden Patah mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.
Sesampai di istana, Ki Juru Sawah langsung menghadap raja untuk menghaturkan upeti. Sementara Raden Patah yang mengikutinya dari belakang, mulai berkeliling untuk melihat istana raja. Ia yang sekali pun belum pernah ke istana, merasa kagum melihat barang-barang serba indah yang ada di sana. Dan, tanpa menghiraukan tata-krama yang berlaku di istana, Raden Patah langsung masuk ke sebuah gedung tempat menyimpan pusaka keraton. Setelah masuk ke dalam gedung, dengan tanpa ragu-ragu, Raden Patah memukul sebuah gong pusaka hingga menimbulkan suara yang menggelegar.
Mendengar suara gong pusaka yang menggelegar itu, Sang Prabu Brawijaya terkejut. Ia lalu memerintahkan Mahapatihnya, untuk melihat siapa orang yang telah berani memukul pusaka itu tanpa seizinnya.
Setelah mendapat perintah tersebut, sang Mahapatih lalu bergegas menuju gedung pusaka. Di sana ia melihat seorang anak muda yang di tangannya masih menggenggam alat pemukul gong. Setelah melihat siapa pelakunya, sang Mahapatih segera kembali ke istana untuk melaporkannya pada raja.
Ketika mendapat laporan dari Mahapatihnya itu, sang Prabu agak terkejut, sebab selain dirinya sendiri, di seluruh kerajaan hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai kekuatan luar biasa yang mampu memukul gong pusaka itu hingga berbunyi. Sang Prabu kemudian berkata, “Anak siapa dia? Lekas panggil kemari!”
Sang Mahapatih kemudian kembali lagi ke gedung pusaka untuk membawa Raden Patah menghadap raja. Setelah Raden Patah dibawa menghadap baginda raja, Ki Juru Sawah yang juga masih di tempat itu menjadi terkejut sekali. Ia tidak menyangka kalau Raden Patah telah mengikutinya ke kota. Dan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Ki Juru Sawah segera berkata, “Ampun Baginda Prabu, hamba sama sekali tidak menyangka kalau dia ikut ke kota. Sudah berkali-kali hamba melarang dia ikut, tetapi rupanya secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti perjalanan hamba.”
“Kau kenal anak muda ini, Ki Juru?” tanya Sang Prabu.
“Ya. Hamba mengenalnya,” jawab Ki Juru Sawah.
“Siapakah dia?” tanya baginda.
“Ia adalah anak asuhan hamba,” jawab Ki Juru Sawah.
“Lalu, anak siapa dia?” tanya baginda lagi.
“Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Ratu Mayangsari.”
“Wah, kalau begitu dia adalah anakku,” kata baginda.
“Benar, Baginda Prabu,” sembah Ki Juru Sawah.
“Kalau begitu, biarlah dia tinggal di keraton ini,” kata baginda dengan nada gembira, sebab anak dari salah seorang selirnya itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Singkat cerita, sejak saat itu Raden Patah tidak lagi tinggal di rumah Ki Juru Sawah, melainkan tinggal di Keraton Majapahit. Selama tinggal di keraton, Raden Patah dengan tekun mempelajari berbagai macam ilmu, sehingga pada saat usianya menginjak dewasa ia telah menjadi seorang yang tidak hanya pandai dalam ilmu olah kanuragan, tetapi juga ilmu-ilmu tentang kenegaraan. Oleh karena itu, Prabu Brawijaya lalu mengutusnya untuk mengepalai wilayah jajahan Majapahit di Palembang.
Setelah beberapa tahun menjadi kepala wilayah jajahan di Palembang, pada suatu malam Raden Patah bermimpin didatangi dan di-Islamkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Di dalam mimpinya itu Kanjeng Sunan Kalijaga juga berkata, “Jebeng1, sekarang sudah tiba saatnya kau kembali ke tanah Jawa. Tengoklah ayahmu yang kini telah lanjut usianya. Bawalah prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Tetapi ingat, kau jangan langsung menuju Majapahit, tetapi tinggallah di daerah Glagahwangi2 dan dirikanlah sebuah masjid di tempat itu.”
Setelah mendapat wisik3 dari Kanjeng Sunan Kalijaga, beberapa hari kemudian berangkatlah Raden Patah ke tanah Jawa, dengan membawa prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampailah rombongan itu di daerah Glagahwangi yang masih berupa hutan. Di hutan itu, Raden Patah beserta rombongannya mulai membangun sebuah masjid.
Oleh karena daerah Glagahwangi masih termasuk wilayah Kerajaan Majapahit, maka Raden Patah merasa perlu menjumpai ayahnya, untuk meminta izin membuka hutan dan mendirikan masjid. Dengan dasar itulah, maka Raden Patah beserta para pengiringnya berangkat ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya.
Namun, karena mendapat laporan dari para telik sandi-nya yang menginformasikan bahwa Raden Patah sedang menuju ke kerajaan dengan membawa ratusan pengawal, entah mengapa Sang Prabu Brawijaya mengira bahwa anaknya itu akan menyerang Kerajaan Majapahit. Dan, entah mengapa pula sang Prabu lalu mengajak permaisuri beserta pengawalnya untuk melarikan diri dari Majapahit. Dalam pelarian ini sang Prabu juga membawa anjing kesayangannya.
Pelarian sang Prabu Brawijaya, permaisuri beserta para pengiringnya itu dari Kerajaan Majapahit menuju ke arah barat hingga sampai di wilayah Gunung Kidul. Sesampainya di tempat itu, sang Prabu menyuruh para pengiringnya membuka hutan dan mendirikan sebuah pedukuhan. Pedukuhan ini sekarang telah menjadi sebuah desa yang bernama Desa Gagang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Saat Raden Patah beserta pengiringnya telah tiba di Majapahit, ia menjadi kecewa karena kerajaan telah kosong. Rupanya antara ayah dan anak tersebut telah terjadi suatu kesalah-paham. Raden Patah datang ke kerajaan dengan maksud ingin meminta izin untuk mendirikan masjid di Glagahwangi, sedangkan Prabu Brawijaya mengira kedatangan puteranya itu bertujuan hendak menyerang Majapahit. Oleh karena itu, Raden Patah beserta pengiringnya berusaha menyusul ayahandanya ke Gunung Kidul.
Setelah beberapa saat lamanya bermukim di Gunung Kudul, Prabu Brawijaya mendengar berita lagi bahwa rombongan Raden Patah sedang menyusulnya. Prabu Brawijaya yang semakin yakin bahwa puteranya itu ingin menyerangnya, kemudian pindah lagi ke sebuah bukit yang masih berada di kawasan Gunung Kidul. Di tempat yang baru itu ia mendirikan sebuah padepokan yang saat ini telah menjadi sebuah desa yang bernama Manggung4. Tujuan dari pendirian pedukuhan di atas bukit adalah agar apabila Raden Patah beserta para pengiringnya datang, dapat segera mengetahuinya.
Namun, setelah tinggal di bukit itu, sang Prabu beserta para pengawalnya menghadapi kesulitan. Di puncak bukit tidak ada sumber air, sehingga setiap ia dan permaisurinya memerlukan air, terpaksa pengawalnya harus pergi ke sumber air yang terletak di kaki bukit.
Sementara itu, Raden Patah yang berusaha menyusul telah sampai di Gunung Nglompong. Di daerah Gunung Nglompong ini ia mendapat keterangan dari penduduk bahwa Prabu Brawijaya bersembunyi di puncak bukit Manggung. Raden Patah juga mengetahui, bahwa di tempat persembunyiannya Prabu Brawijaya sering mengalami kesulitan karena tidak ada air. Oleh sebab itu, dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki, Raden Patah lalu melemparkan sebuah genthong atau padasan yang penuh berisi air ke puncak Bukit Manggung.
Sewaktu sang Prabu secara tiba-tiba mendapati sebuah padasan yang telah berisi air di depan pondoknya, ia yakin bahwa itu adalah “ulah” anaknya. Ia menyangka Raden Patah sedang mengejeknya dengan memberikan genthong yang penuh berisi air yang memang sangat dibutuhkannya. Oleh karena itu, sang Prabu beserta permaisuri dan para pengawalnya meninggalkan bukit Manggung untuk mencari tempat persembunyian yang lain. Dan sejak saat itu, bukit tempat Prabu Brawijaya yang dilempari sebuah genthong oleh Raden Patah dinamakan sebagai Gunung Genthong. Dan, sampai saat ini genthong “pemberian” Raden Patah itu masih ada namun dindingnya sudah retak-retak, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk menampung air.
Begitulah, terus-menerus Sang Prabu Brawijaya senantiasa melarikan diri dan bersembunyi. Sedangkan Raden Patah pun juga terus saja mencari dan berusaha ingin menjumpai. Sampai suatu saat sang Prabu dapat tersusul oleh Raden Patah.
Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari Raden Patah, maka seluruh kesalah-pahaman diantara mereka pun dapat diselesaikan. Dan, kepada puteranya itu sang Prabu berkata, “Baiklah, Patah. Ayahanda ingin berbicara. Kalau ayahanda harus menuruti kehendakmu untuk menganut agamamu, ayahanda tidak bersedia. Kalau kau memang memilih agamamu itu, tekunilah dengan sungguh-sungguh. Soal niatmu akan membangun masjid, laksanakan sebaik-baiknya. Bahkan ayahanda mengizinkan engkau membangun keratonmu di Glagahwangi. Setelah jadi, namakanlah Demak Bintara, agar negerimu kelak ramai dan berwibawa. Pindahkanlah seluruh isi Keraton Majapahit ke Demak Bintara.”
Setelah mendapat nasihat dari ayahandanya, Raden Patah lalu melanjutkan rencananya membangun masjid di Glagahwangi. Bahkan, sesuai dengan nasihat yang diterimanya, ia pun mulai mendirikan keraton. Saat keraton selesai di buat, barang-barang dari Keraton Majapahit lalu dipindahkan ke keratonnya yang dinamakan Demak Bintara

cerita rakyat


Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni


Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita. 

Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.

Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.

“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.

“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.

Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.

“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.

“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.

“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.

Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.

Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.

Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.

“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.

“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.

“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.

Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.

“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.

Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.

“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.

Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.

“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.

Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.

Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni

Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.

Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu. Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya. Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.

Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri. Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.


===========



Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui wangsit yang diterimanya.
 Pesan moral lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki seperti para selir dapat melakukan kejahatan apa saja demi mencapai cita-citanya. Para selir tega mengusir Putri Kandita dari istana karena merasa iri terhadap sang Putri sebagai calon penerus tahta Kerajaan Pakuan Pajajaran. 
(Samsuni/sas/205/10-10)

source : Putri Kandita
by cerita rakyat nusantara

Selasa, 04 Maret 2014

Puisi Reformasi di Era reformasi

by kecil itu indah

EMPAT TANGKAI BUNGA GUGUR DI TRISAKTI
        Oleh: Rim Putra Sunda                    
       
        Sore itu, Jakarta kelabu
        Hujan turun meregang bagai busur
        Menusuk jantung bumi
        Empat tangkai bunga gugur di Trisakti
        Terpanggang tirani.

        Memang kematian adalah takdir
        Tetapi kelaliman tak dapat diampuni
        Menumpahkan darah sesama
        Hanya akan melahirkan kepedihan dan kegeraman
       
        Selamat jalan bungaku
        Engkau adalah wangi dari bunga reformasi
        Wangimu merebak keseluruh pelosok negeri
        Membangkitkan semangat bumi
        Tetesan darahmu tercatat dalam sejarah peradaban bangsa
        Do'a kami, mengiringimu ketempat peraduanmu.
                                                                 
        Bogor, Mei 1998.

       LEWAT PUISI AKU BERNYANYI
       Oleh: Rim Putra Sunda

       Seandainya kaki ini tak beku di sandal jepit
       Tentu aku dapat menari dan menyanyi bersamamu
       Tentang kuncup bunga yang mekar di kampus-kampus
       Percayalah kawan, akupun bernyanyi seperti di panggungmu
       Tentang hijaunya daun, putihnya salju, birunya laut dan hitamnya aspal.

       Lagumu senandung rindu yang lama hilang ditunggu kalbu
       Yakinlah kumbang mengisap sari dari kantung lusuh bajumu
       Ia akan terbang mencari sarang penyamun yang dipenuhi madu
       Dan berbisik; Turunlah....... karena kumbang telah mengandung
       Buah ranum tak berulat.
     
       Biarlah aku bernyanyi di sini saja
       Seperti nyanyian pajar menjemput pagi
       Dari setiap uban yang jatuh lahir puisi
       Meramaikan kenduri para sufi
       Yang malu-malu berdiri.
     
       Bandung, Mei 1998'.

       KADO BULAN MEI
       Oleh; Rim Putra Sunda

      Selamat damai kataku kepada puluhan ribu
      mahasiswa, pembuka kado duapuluh satu Mei
      yang terekam dibalik layar kaca.
      Kado apa yang mesti kubuat untukmu
      selain buah demonstrasi? Sepasang merpati
      atau untaian melati. Engkaulah buah hati

      Selamat damai kataku, kepada bayangan
      yang menggiring sepi ke sisi mentari pagi
      membuka buku baru, lembaran baru, corfetan
      baru. Bongkahan batu hitam yang menyimpan misteri
      tentang orang-orang yang mengotori negeri ini
      tentang perang sesuka hati.

     Selamat damai kataku kepada diri sendiri
     dari hari mencari hari yang terus ke sisi
     senja lagi-senja lagi, lapar menggugat
     kapan kita berhenti berdebat ?
     Topeng-topeng lahir warna-warni
     berebut hati mencri penghuni
     berpencar mencari pemancar, dan
     penghuni semakin gentar.

     Selamat damai kataku, entah untuk siapa
     hanya udara yang dihirup terasa semakin pengap
     menunggu kabar hari esok.

     Bandung, Juni 1998.

     LEWAT LAYAR KACA NOVEMBER BERDARAH.
     Oleh : Rim Putra Sunda.

     Lewat layar kaca terekam peperangan
     bambu runcing, batu, gas air mata, dan senapan
     menyalak tak lagi bisa dielakan
     bau amis darah terulang lagi.
     Jalanan Jakarta terpanggang api amarah
     dan langitpun berjelaga.

     Aku menangis bukan gas air mata
     tapi karena negeri ini penuh luka dan dukacita
     hanya karena berbeda menjadi mati rasa.
     Baru saja kita lega
     belum kering darah 13 Mei diingatan
     basah lagi 13 November di senapan kelaliman.

     Kapan kita punya cerita tentang negeri khatulistiwa
     hunian para raja yang adil palamarta
     yang mampu menyantuni darah muda
     bukan raja pencari pusaka
     yang dijaga kawat berduri dan ponggawa
     yang takut kehilangqan tahta.

     Apa yang mesti kita perbuat
     selain perang dan perang lagi
     atau akan tetap mengembara di rimba belantara.
     Kesadaran yang diperdebatkan tetap jadi impian
     harta dan tahta jadi rebutan.

    Rasa-rasanya ingin menghapus angka 13  dari penanggalan
    menjadi angka keramat dalam ramalan
    barangkali warna darah tidak lagi menyakitkan
    tetapi merah meyakinkan.
    Dan perbedaan menjadi pelajaran bagi perubahan
    bukan lawan yang harus dimusnahkan.

    Sumedang, November 1998.

   

                           MENANGISLAH
                           Oleh: Moch Djoko Yuwono

     Menangis, menangislah Bunda Pertiwi
     darah bersimbah
     jiwapun meradang
     senandung lagu sendu
     : bertapa hatiku tak kan pilu, telah gugur pahlawanku......

     Menangis, menangislah wahai Bunda Pertiwi
     ketika di antara sebagian putra-putrimu masih ada
     yang mencari kenikmataan sesaat
     memenuhi ketidak puasan-ketidakpuasan
     tanpa melihat arah
     menuju kehancuran atau sebaliknya
     sedangkan sebagian anak negeri yang lain tak henti
     cemas berteriak tentang perubahan.

     Menangis-menangislah, wahai Bunda Pertiwi
     maka derasnya air matamu akan menyemai kelopak bunga
     yang terkulai dan gugur oleh pelatuk senapan senja hari
     maka derasnya air matamu akan menyuburkan
     bunga-bunga mawar
     berseri indah di taman yang damai.

     Damai, damailah wahai anak negeri
     mari menjalin jemari
     sebelum senja menenggelamkan surya
     sebelum kelopak bunga jatuh sia-sia
     demi berjuta harap
     demi berjuta damai
     menuju hari esok
     untukmu
     untukku
     untuk kita.
                                                                   Majalah AKSI  Jakarta,  Mei 1998.

                      TANAH AIR MATA
                      Oleh: Sutarji

     Tanah air mata tanah tumpah dukaku
     mata air air mata kami
     air mata tanah air kami
     di balik gembur subur tanahmu
     kami simpan perih kami
     di balik etalase gedung-gedungmu
      kami coba sembunyikan derita kami
      kami coba simpan nestapa
     kami coba kuburkan duka lara
     tapi perih tak bisa sembunyi
     ia merebak kemana-mana.

     Bumi memang tak sebatas pandang
     dan udara luas menunggu
     namun kalian tak bisa menyingkir
     kemanapun melangkah
     kalian pijak air mata kami
     kemanapun terbang
     kalian kan hinggap di air mata kami

    Kalian sudah terkepung
    takkan bisa mengelak
    takkan bisa ke mana pergi
    menyerahlah pada kedalaman air mata kami.

    Kompas   16 Agustus 1996

                       SAYA MENDENGAR INDONESIA MENYANYI
                       Oleh : Abdurahman Wahid [Gusdur]   Kompas.

    Saya bisa saja dianggap kurang dapat 
     melihat dengan baik,
     Akan tetapi saya dapat mendengar,
     mendengar dengan baik
     Indonesia kita tercinta menyanyi.........

                                 Saya mendengar Indoesia menyanyi,
                         Di tengah badai krisis Indonesia yang makin merajalela
                         Di kala perpecahan, kesaatuan dan persatuan menerpa kita,
                         Dari Sabang sampai Merauke,
                          Tua muda, pelajar-mahasiswa, usahawan dan pekerja,
                         Satu padu dalam lagu "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa"

                          Saya mendengar Indonesia menyanyi,
                         Budayawan dan seniman, penari dan musisi,
                         Politisi, karyawan swasta dan pegawai negeri,
                         Satu padu dalam lagu " Padamu Negeri".

                         Saya mendengar Indonesia menyanyi
                         Para pemuka bangsa, pakar, politisi dan praktisi,
                         Prajurit, perwira dan patriot pejuang sejati,
                         Tegar bersama dalam lagu " Maju Tak Gentar"

                         Dengar, hai dengar Indonesia menyanyi,
                         Bersatu padu dalam lagu harapan, pengabdian,
                         dan perjuangan.
                         Perjuangan untu membela yang benar,
                         yang dihembus dan disebar oleh angin perubahan,
                         dan reformasi.

                        SAYA MEMPUNYAI IMPIAN
                        [Dari lapangan Tianmen China] Kompas

                        Saya mempunyai impian
                        untuk impian ini, saya bersedia
                        menumpahkan darahku
                        untuk impian ini
                        Biar aku menahan lapar dan dahaga 
                        Biar hatiku penuh dengan kegeraman
                        dan keputusasaan
                        Biar senapan kelaliman dengan napsu membunuh
                        Diarahkan ke dadaku
                        Karena di belakangku, tidak akan pernah akan membiarkan
                        Generasi anak-anak dan cucu-cucu Cina
                        Sebuah impian tentang demokrasi dan kebebasan.

                        [peristiwa demonsrasi mahasiswa yang salah satunya
                        meninggalnya seorang mahasiswa di gilas Tank Baja]                        
 

                        .KEPADA WAKIL RAKYAT
                         Oleh: Rim Putra Sunda
                             
              Yang terhormat wakil rakyat
              Tuan adalah orang terhormat yang mewakili empat ratus ribu,
               yang memilih tuan.
              Suara tuan sangat kuat karena suara empat ratus ribu, yang
              sanggup menggoyang bumi nusantara.
              Mulut tuan mulut empat ratus ribu, yang disiapkan untuk membela
              mulut-mulut lapar dan dahaga.
              Kenginan kami sama dengan janji-janji tuan yang komitmen
              terhadap perjuangan hak-hak hidup.

             Setelah tuan terpilih mewakili kami, tuan jadi orang kaya mendadak
             Kami curiga..........
             Tuan korupsi, kolusi, dan nepotisme, empat ratus ribu yang memilih tuan
             merasa malu dan kecewa.
             Tuan jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi banding, sementara
             persoalan di dalam negeri menggunung., dan
             Kami bingung tujuh keliling...
             Indoesia baru, yang tuan pasarkan belum laku. 
             Kami penasaran
             Tuan berebut jabatan mencari posisi jadi menteri
             Kami tidak mengerti....
            
             Mewakli siapakah sebenarnya tuan-tuan......? 

             Bandung, Sept. 2000



            SURAT DARI TSUNAMI
             Oleh: Rim Putra Sunda 
            
             ACEH, NIAS  26 DESEMBER 20004 
             Kepada INDONESIA
             Aku adalah TSUNAMI
             Namaku berasal dari negeri Sakura
             Gelombang samudra Hindia 
             yang meratakan perkampungan, kota dan desa,
             tak terkecuali para suhada, tetapi aku masih
             menyisakan kesempatan hidup dan impian. 

            Kepada INDONESIA
            Aku bukan durjana pencipta bencana 
            bukan pula teroris yang diburu dunia
            atau Dazal yang melahirkan huru-hara
            aku adalah alam yang dapat kalian baca
            seperti kalian melihat terbit dan tenggelamnya Matahari
            atau gerhana  yang menenggelamkan Bumi
            cuma kalian lalai terhadapku
            walaupun ada di antara kalian pemerhati 
            tetapi membeku saat aku tiba.

            Kepada INDONESIA
            Aku juga berduka sangat dalam
            sedalam samudra dari mereka yang tersisa 
            atas tingkahku yang tidak berkenan 
            meluluhlantakan sebagian dari kehidupan kalian
            tak terkecuali anak-anak yang main petak-umpet di jalanan
            Aku sayang pada mereka
            Aku cinta mereka
            mereka sekarang tak lagi merasa sakit
            tak lagi lapar dan dahaga
            atau rasa takut berkepanjangan
            biarlah mereka tidur panjang
            meninggalkan segala dunia
            terbebas dari segala prahara. 

           Kepada INDONESIA
           Aku masih punya kebanggaan pada kalian 
           pada hati yang masih hidup
           pada dunia yang tidak mengenal batas
           santunan dan bantuan tak terkira
           mereka betul-betul tulus dan ikhlas membantu sesama
           mengangkat jasad-jasad tak bernama
           di tumpukan puing reruntuhan dan di kubangan lumpur hitam
           Tetapi akupun prihatin pada kalian
           ternyata kalian betul-betul miskin
           miskin harta dan peralatan   
           miskin langkah  dan penanganan
           kalianpun canggung dalam pergaulan dunia
           karena sudah dicap raja maling jalanan
           yang hampir-hampir tak mampu menyalurkan bantuan.

           Kepada INDONESIA
           Akupun berharap pada kalian
           menata langkah ke depan
           tak lagi mencari-cari kambing hitam
           berdebat berkepanjangan
           cukuplah sudah seratus ribu jiwa tertanam dalam dada kalian
           seratus ribu jasad tak bernama memohon pada kalian
           agar poto copy bencana kemanusiaan
           tak lagi terulang.
           
           Saat suratku sampai di tangan kalian 
           Aku telah pergi jauh ke lempeng samudra
           di bawah bayang-bayang perahu nelayan dan kapal pesiar
           saat aku datang lagi, kalian telah siap menyambutku.
           Tsunami...........

           Sumedang, Januari 2005.